Reading List

Saya termasuk orang yang hobi beli dan baca buku. Look, kata beli saya sebutkan duluan sebelum kata baca. Waw. Di era sosmed dan smartphone sekarang memang hobi membaca saya sedikit pudar, begitu pula dengan kecepatan membaca saya menurun drastis. Pada akhirnya banyak sekali buku – buku yang belum saya baca sampai selesai hingga saat ini, antara lain :

Marie Kondo – The life-changing magic of tyding up

Buku ini saya beli waktu hamil (ah elaah kelamaan) dan belum selesai saya baca karena isinya berbobot banget..Akhirnyaa..saya letakkan di meja depan kamar mandi. Dan saya baca ketika menunaikan hajat number two. Mayan kan setiap hari pasti kebaca meskipun hanya beberapa halaman.

The Danish Way of Parenting

Buku ini barusan banget saya beli, bagus, saya uda baca beberapa bab. Tetapi karena ada tugas buat modul praktikum yang cukup demanding, akhirnya kepending deh baca buku ini. Entah kapan akan saya mulai lagi. ASAP sih harusnya, karena lumayan saya sempat taking notes intisari dari buku ini.

Teach Like Finland

Ini buku kenapa ya saya pending bacanya? Karena ke skip dan kelupaan. Udah 2 semester terlupa loh buku ini 😀

Fitrah Based Education

Nah, kalau buku ini memang berat banget banget banget, literally. Dari segi dimensi dan berat buku ini heboh banget ukurannya, isinya pun sangat berbobot. Tidak akan pernah bisa saya membaca buku ini seperti buku – buku yg lain. Harus selalu siap stabilo & buku catatan buat ambil intisari dari semua bacaan yang isinya berbobot semua. Kebetulan buku ini sudah saya bawa ke kampus karena sedang ada project kecil dengan beberapa teman untuk mengadopsi isi buku ini dalam bentuk nyata. Mayan lah ada yang bantuin baca 🙂

Banyak ya, begitulah saya, sekarang saya menjadi setidakkonsisten itu 🙂

Semoga saya segera mendapat hidayah untuk menyelesaikan buku – buku tersebut. AMin

Rgds,

Luli

Cerita Ibu : Hubungan dengan pasangan

Cieile..judulnya..menarik. Jadi gini, sebagai netizen aktif instagram dalam urusan kepo dan scroll2 doang bukan posting, saya nemu postingan seorang selebgram yang memberikan insight baru soal hubungan kita sebagai ibu dengan pasangan kita atau suami. Dan well, saya jadi tersadar loh, bahwasanya ketika kita sudah menjadi ibu, kita masih tetap menjadi istri atau pasangan bagi suami kita. Saya dan suami bolehlah orang tua buat baby R, tapi saya masihlah istri dari suami saya. Nah loh bingung kan.

Intinya sih dari tulisan – tulisan yang dia bagikan, sebagai seorang ibu yang super super sibuk..janganlah kita lupakan hubungan personal kita dengan suami. Kita sibuk dan capek ngurus rumah dan anak, tapi pastilah suami merindukan kita sebagai pasangannya secara utuh. Disini saya tidak membicarakan soal hubungan seks suami istri, tapi bagaimana kita tetap punya hubungan yang berkualitas dengan suami.

Saya tersadar selama ini saya hanya disibukkan dengan tetek bengek urusan baby R dan rumah. Merasa selalu lelah sendirian, merasa paling sibuk. Saya melupakan yang namanya leyeh2 berdua sama suami sambil ngobrol2..intinya setelah selesai kegiatan ke ibu an saya lebih memilih beristirahat tanpa meluangkan waktu untuk menjadi pasangan bagi suami saya. Disitulah saya memang belum menemukan ritme yang pas untuk menyeimbangkan diri saya sebagai istri dan sebagai ibu. Bagi saya dulu ibu = istri. Ternyata tidak.

Ibu dan istri adalah 2 peran yang berbeda yang melekat dalam 1 orang. Jadi terkadang peran berbeda harus kita jalani untuk kemaslahatan bersama. Suami saya termasuk orang yang concern terhadap hubungan dengan pasangan. Ada kalanya dia hanya ingin saya hadir hanya untuk dia di satu waktu. Cuma memang timingnya harus disesuaikan dengan jam nya anak kami. Misal, ketika anak sudah tidur, dia minta saya lepas handphone dan mengobrol dengan dia, atau sesimpel dia akan masak indomie lalu dimakan berdua. Atau, kalau siang hari anak lagi tidur, dia meminta saya berhenti mengerjakan pekerjaan rumah lalu ngobrol sama dia. Sesimpel itu.

Quality time dengan pasangan bagi kami memang harus disiasati apalagi kami hidup bertiga saja, dalam artian tanpa ART atau nanny. Jadi ketika libur ya memang anak sama kita aja, gak bisa dititipin siapa – siapa untuk sekedar ngedate berdua diluar. Sesimpel apapun itu, meskipun hanya di rumah, saya dan suami mengusahakan kita punya quality time as a spouse. Bukan sebagai ayah dan ibu 🙂

Rgds

Luli

Cerita Ibu : Moms are only human

Hello everyone 🙂

Mon maap lama banget gak nulis blog (emang ada gitu yang baca). Currently having a tight situation (maklum emak – emak). Kenapa tiba2 kepikiran nulis blog lagi? Karena oh karena baby R udah bobo jam segini, dan suami lagi ke tempat neneknya yang baru pulang dari RS, alhasil habis beresin meja makan aka meja belajar magabut deh.

Intinya begini, saya sedang extremely exhausted. Serem amat. Iyaaah betul, sampe2 kepikiran order go massage minta dibayarin suami buat besok. Kenapa capek? Ya wajar lah sis..namanya juga emak – emak. Emak mana sih yang gak capek? N*A R*M***NI mungkin ya karena di meme2 bilang dese pembantunya 15.

Oke gini, mungkin saya jenuh endebre endebre. Lelah sudah. Rutinitas, project even mompetition make me want to scream as loud as possible. Serem gile. Rutinitas, iya sih sebagai working mom tanpa pembantu, semua dikerjain sendiri. Bersih2 rumah, nyiapin makan buat seisi rumah (padahal cuma 3 orang doang), cuci setrika dll yang intinya pekerjaan rumah harus dikerjain sendiri. Seringnya numpuk di weekend karena di weekdays sampe rumah udah cape banget dan baby R lagi aktif2 nya pastilah minta ditemenin main sama emaknya. Selain pekerjaan rumah, rutinitas yang lain adalah main sama anak. Silahkan judge saya gak bersyukur atau gimana ya, tapi percayalah setiap pagi urus rumah & anak, lanjut ke kantor mampir daycare buat anter anak, kerja lalu pulang jemput anak sudah bikin saya lumayan capek. Sampe rumah seringnya anak masih ON banget karena dia abis mandi di daycare minta temenin main. Di usianya yang sekarang jujur saya udah harus mikir, mau diajak main apa ni anak? Yang jelas sih yang mengasah motorik bla bla bla..interesting…tapi sekali lagi, saya sering kehabisan ide..untunglah kalau pas kehabisan ide saya sering ajak dia keluar jalan2 ketemu anak2 tetangga, dan dia happy :).

Kerjaan, yaa begitulah, masih harus siapin ini itu sebelum semester baru mulai, dan harus mulai niat dan melangkah untuk mengurus jabatan akademik. Poor me, disini saya menyesal jadi dosen, semua semua semua serba ribet (menurut saya). Mau urus jabatan akademik, syaratnya aja ber poin2. Dan beneran semua murni harus INISIATIF DIRI SENDIRI. Beda banget sama kerja kantoran jaman dulu, dimana target udah diset, tinggal jalanin, koordinasi, selesai..jabatan / reward / penilaian mengikuti. Kalau jadi dosen, boro2..semua target sampe eksekusi harus kita inisiasi sendiri. Thats whyyyyy yaa kalau saya lihat dosen – dosen saya dulu kebanyakan mukanya lebih tua dari umurnya. Ups. Sebenernya tinggal kita pilih aja sih, mau jadi dosen yang gimana, yang ga peduli jabatan maunya cm ngajar doang, neliti doang tanpa kepikiran administration stuff ya boleh. Resikonya karir ya disitu2 aja.

Oke back to topic. Kadang – kadang memang otak saya ini terlalu tercemari dengan tag line “HOW TO BE A PERFECT MOTHER”. Padahal yaaa…gak ada yang namanya ibu yang sempurna, if we look dari kacamata ibu – ibu yang lain. Tapi semakin kesini saya semakin meyakini bahwa, tidaklah penting bagaimana seorang ibu dilihat oleh ibu yang lain. Melainkan ibu yang dilihat oleh anak kita sendiri. Motherhood is a journey. Journey kita sama anak kita, bukan sama ibu yang lain. Bolehlah ibu lain bikin semua makanan anaknya sendiri, sementara saya cukuplah makanan utama dan snack utama yang saya bikin sendiri, sedangkan cemilan-cemilan saya beli diluar. Bolehlah ibu lain masih pumping ASI sampe anaknya 2 tahun, saya sendiri pumping sampai baby R 1 tahun, setelah itu selama di daycare dia minum chil kid. Di rumah baru full nyusu sama saya. Saya mulai tidak peduli ketika orang lain bertanya, kenapa udah gak pumping. Hey, i have my own reason. Yang mereka tidak lihat adalah bagaimana saya jungkir balik berjuang kasih ASI anak saya dari kemarin2. Bolehlah ibu yang lain ASI nya udah deres banget dari awal sampe dia bilang “SUFOR IS A BIG NO”. Bersyukurlah Bu, ASI itu rejeki, saya mengusahakan buat anak saya dapat ASI, saya usaha keras banget untuk itu. And im so proud saya bisa melaluinya dengan kerjasama antara saya, baby R dan tentunya suami saya. Bolehlah ibu yang lain setiap hari bikin kegiatan montessori berfaedah buat anak nya, sedangkan saya angin – anginan. Toh bagi saya intinya saya ADA untuk main sama anak saya. Apapun mainannya, sebodoh apapun permainan kami pada hari itu, saya yakin yang buat dia bahagia adalah adanya saya ikut bermain.

Satu hal yang saya tanamkan pada diri saya sendiri. Ibu harus happy, and the kids will follow. Saya harus menjadi ibu yang happy, bukan ibu yang sempurna. Saya boleh lelah, karena saya manusia bukan robot. Saya hanyalah seorang ibu. Saya boleh sedih, dan saya boleh kecewa. Thats whyyy saya sangat jarang memposting everything about baby R di sosmed, karena bagi saya, motherhood itu journey saya sama baby R, bukan dengan khalayak follower instagram aka netizen :p .

So, moms, its okay kalau kita lelah, tandanya kita do something. Its okay kita bukan seorang ibu yang sempurna, tandanya kita pernah mencoba untuk jadi yang sempurna. Happiness is the most important thing of being mom :).

Rgds,

Luli

Cerita Ibu : Invest in a good pump

Helloooooooooooooooooo

Sepertinya blog ini mulai jamuran ngga pernah disambangi sama sekali yaaa…

Baby R sudah memasuki 3 bulan sekarang, Alhamdulillah makin aktif. Banyak sekali yang ingin diceritakan, tetapi bingung mulai dari yang mana. Banyak sekali ups and downs, suka cita, tangis tawa sampai bingung mau mulai dari mana :D.

Berawal dari obrolan di grup whatsapp ibu-ibu angkatan kuliah saya, awalnya ada yang nanya, pompa asi apa sih yang bagus? Kebetulan yang bertanya adalah teman saya yang sedang hamil, dan berencana membeli pompa asi untuk persiapan.

Pada saat obrolan itu berlangsung saya sendiri sedang menggunakan pompa asi Malish seri Celia, dan kebetulan masih sewa, belum punya sendiri. Pada saat itu saya sudah pengalaman menggunakan 3 macam pompa asi. Here we go review dari saya.

Pigeon Manual Breast Pump.

Ini adalah breast pump pertama yang saya punya. Beli sekitar H-7 sebelum lahiran. Karena kepikiran pas di RS harus banget sudah ada BP, entah buat nampung rembesan atau mancing keluarnya ASI. Dan betul sekali, kepake di RS sampai pulang. Karena setelah di rumah kalau baby R tidur saya manfaatkan waktu untuk pumping meskipun hasilnya masih basahin pantat botol doang. Dan rekor hasil perahan saya di awal – awal adalah pakai BP ini. Kelebihan dari BP ini sendiri adalah tuasnya ergonomis, gak terlalu pegel buat pumping dan kuat banget tarikannya bersinergi dengan tangan saya. Kekurangannya menurut saya printilan pompanya banyaaaak banget, pegel cuci steril nya 😦 dan lama kelamaan pegel juga lo pumping pakai manual.

Malish Mango

Ini adalah BP kedua yang saya coba. Boleh minjam punya tetangga. Ceritanya tetangga saya yang juga sahabat saya ini menyarankan saya buat ganti BP elektrik, karena nantinya saya kerja. DIa berbaik hati meminjamkan BP Malish Mango nya untuk saya coba selama 3 hari. Voilaaaa enak banget… narik, ga sakit, dan tiba2 asi nya uda netes aja ke botol. Kepikiran nantinya kalau mau beli BP elektrik mau mempertimbangkan merk Malish aja. Karena konon BP elektrik ini cocok – cocokan ya. Kelebihannya buat saya jelas karena ga sakit nariknya dan nyedotnya endeess sampai kosongin PD, daaaan yang terpenting ga capek seperti pakai manual. Kekurangannya adalah masih single pump  yang berati doubled your pumping time 🙂 dan non – rechargeable.

Medela Swing

Pompa ini lah yang membuat saya sadar bahwa elektrik BP itu cocok – cocokan. Karena saya memutuskan , enough pakai manual BP, suami saya menyewakan si Medela Swing ini ke Mba Dian Pompa Asi Malang. Dan saya merasa tidak cocok pakai pompa ini, while banyaaak sekali moms d luaran sana cocok pakai pompa ini. Kenapaaaaa oh kenapaaaa? Kalau di saya pompa ini kurang narik, netesnya lama dari di hisap sampai asi turun ke botol. Bikin down duluan, kok asi ku ga keluaaarrrrr??? 😦 😦 Gara – gara ini saya jadi males pumping, yang berakibat produksi turun. Kelebihan pompa ini kalau di saya adalah sama sekali nggaaa sakiitt, dan corongnya ukuran L bener – bener pas. Pas banget kayak jodoh. Sayangnya saya tidak ingin menjadikan BP ini pilihan BP yang akan saya beli. Mahal juga kaliii. Dan single pump non rechargeable.

Malish Celia

Setelah mengeluh tentang ketidak cocokan saya dengan Medela Swing ke Mba Dian, dia menawarkan Malish Celia yang sedang ready to rent. Langsung saya iyain aja tukar Medela Swing sama Malish Celia ini. Seperti pengalaman saya pakai Malish sebelumnya enak banget nariknya, dan mulailah saya rajin pumping lagi. Enaknya BP ini adalah dari segi tarikannya seperti Malish pada umumnya, dan rechargeble. Sampai awal masuk kerja pun saya masih pakai Malish Celia ini. Kekurangannya kalau untuk saya adalah waktu itu dia masih single pump jadi lumayan time consuming kalau harus pumping di kantor. Tapi melihat dana yang ada, saya memutuskan untuk beli Malish Celia yang double pump, meskipun kalau double pump akan kurang narik karena motornya cuma 1.

Malish Ilaria

Setelah didesak oleh suami untuk segera beli BP karena masa sewa Malish Celia akan habis, akhirnya saya setuju dibelikan Malish Celia, dan belinya online saja karena lebih murah.Waktu cek ke OLS di shopee, kok harganya Malish Celia double pump sama Malish Ilaria ga beda jauh ya? Konon Malish Ilaria ini lagi didiskon di ols tersebut. Sempat galau, Malish Ilaria ini adalah seri hospital grade nya Malish, dimana pasti lebih tangguh. Double pump nya sudah menggunakan 2 motor, jadi bisa disesuaikan kekuatan hisapan untuk masing – masing pompa. Cuma tidak rechargeable, nah looooo. Setelah semedi semalaman, saya dan suami memutuskan membeli Malish Ilaria karena konon dia juga best pump nya Malish. Harga emang ga boong, sampe sekarang pompa ini masih saya pakai, enak bangeeettt…no time consuming anymore. Salah satu cara mensiasati non rechargeable nya adalah suami membekali saya dengan power bank yang harus selalu ready di dekat saya. Alhamdulillah. Untuk BP sekelas ILaria, dengan merk lain, Malish dikenal sebagai pompa dengan harga yang lumayan terjangkau, sebanding dengan fungsinya.

Naahh..memang bener tag line invest in a good pump, karena berefek pada semangat memompa, hasil perahan dan waktu. Saya bukan orang dengan asi yang banjir banjiirr dan harus jungkir balik untuk mengASIhi. Namun, dengan melakukan investasi untuk pompa yang harganya lumayan pricey tapi skillfull amat sangat membantu untuk ibu bekerja seperti saya.

Sekan rewiew dari saya di Cerita Ibu. Sampai ketemu di Cerita Ibu lainnyaaaa 🙂

 

Social Media Nowadays

Hello 🙂

Saya sedang berpikiran untuk ‘membersihkan’ medsos saya. Ya facebook, ya twitter dll. Kenapa dibersihkan?

Karena, saya merasa media sosial isinya sudah terlalu macam – macam. Sudah jauh di luar nalar saya. Saling menjelekkan satu sama lain. Menyebar berita yang kita semua tidak jelas tahu baik atau benarnya.

Media sosial sudah tidak berfungsi sebagaimana dulu. Dulu saya menganggap media sosial itu fungsinya ya buat menyambung silaturahmi, menemukan teman lama yang sudah lama gak ada kabar, semacam itulah. Sekarang media sosial lebih cenderung sebagai tempat untuk menyebar hal – hal yang justru sebenernya ada tendensi untuk memupuk nilai – nilai kebencian dan asumsi tak berdasar. Lalu kemana fitrah kita sebagai manusia sebagai makhluk sosial yang penuh dengan kasih sayang?

Atau jangan – jangan media sosial itu bukan bagian dari fitrah manusia? Bahwasanya manusia harus berinteraksi dan bersilaturahmi secara nyata, di dunia nyata dan real time? Saya belum tahu jawabannya.

Saya sedang dalam proses mengurangi porsi sosial media, mengalihkan perhatian dan memaksa diri saya kembali ke dunia nyata. Contohnya?

  1. Saya mulai membatasi penggunaan handphone hanya untuk whatsapp, sosial media dibuka sesekali saja dalam sehari.
  2. Mulai browsing barang yang akan saya jual di olshop saya, yang atas dukungan suami Insya Allah akan segera kami launching.
  3. Back to basic. Membaca buku.Yaaa… buku dalam bentuk fisik, bukan e-book atau artikel yang didapatkan dari sosmed. Hahahhaa.

Kembali ke dunia nyata menyenangkan so far. Lebih banyak waktu buat istirahat dan buat ngurus suami, setelah drama kerewelan kehamilan di trimester pertama kemarin.Semoga saya istiqomah untuk mengurangi dan bersih – bersih sosmed. 🙂 🙂

Cerita Kehamilan : 13 Minggu

Hello everyone 🙂

ALhamdulillah minggu ini kehamilan saya menginjak minggu ke 13, yaitu 3 bulan lebih sedikit lah. Rasanya? Kadang tidak percaya kalau ada makhluk kecil yang sedang tumbuh inside my tummy.

Kondisi saya sejak hamil ini bener – bener berubah sekali dari sebelum hamil. Sebelum hamil saya hobi banget ngurus rumah dan masak, sejak hamil ini, alergi banget sama yang namanya kerjaan rumah. Langsung mual. Bahkan lewat dapur pun saya udah ngerasa mual. Tidak beruntungnya saya, kamar mandi letaknya di sebelah dapur, jadi kalau mau ke kamar mandi harus ngelewatin dapur. Jadinya kalau mau ke kamar mandi itu saya selalu tutup hidung. Bahkan pernah, ambil piring di dapur aja pas mau makan, saya langsung jackpot. Mandi pun juga begitu, gak mau berlama – lama di kamar mandi. Mandi bebek itu tiap hari, dan hanya 1 kali sehari. Kebayang kan, joroknya bagaimana.

Sebelum hamil saya juga hobi merawat diri dan mengoleksi skin care berbagai macam, sejak hamil? Boro – boro make, lihat aja saya udah mual banget. Alergi. Akhirnya meja tempat lenongan yang awalnya ada di kamar depan, dipindah ke kamar belakang dan tanpa pernah saya sentuh lagi.

Bagaimana dengan makan? Sebelum hamil saya adalah penggemar sayur – sayuran, sejak hamil, saya anti sayuran. Sangat menyedihkan. Pernah suami beli capcay untuk makan malam, saya menolak bahkan berurai air mata karena baunya begitu menyengat membuat saya mual. Alhamdulillahnya, saya masih suka dengan buah dan jus.

Alhamdulillah lagi waktu kontrol ke dokter minggu kemari, si adek bayi di perut sehat, detak jantungnya teratur dan normal. Sayangnya berat badan saya turun 4kg sejak 3 minggu yang lalu. Kondisi ini sangat saya syukuri, karena saya ada riwayat flek dan harus bedrest 5 hari di minggu ke 7-8. Sejak itulah saya bener – bener menghargai apa yang namanya istirahat.

Dari tau hamil sampe sebelum menginjak bulan ketiga saya jackpot parah, sehari bisa 5 kali dan hampir tidak bisa makan nasi. Yang sering hanya makan roti, biskuit buah atau jus. Alhamdulillah, seiring berjalannnya waktu, kerewelan ini jauh berkurang, sudah bisa makan macam – macam meskipun nggak banya. Dan alhamdulillah sudah punya rasa lapar.

Pada kondisi seperti ini, peran suami sangat – sangat besar. Dulu suami adalah orang yang sangat jarang melayani dan membantu pekerjaan rumah. Sekarang hampir setiap pekerjaan rumah dia yang mengerjakan disela-sela jam kantor dan pekerjaan tambahannya. Bahkan untuk makan pun, suami yang mengambilkan dan mencucikan piring saya. Jangan ditanya, padahal saya sudah tidak pernah memasakkannya lagi, tidak pernah menyambutnya dengan minuman hangat sepulang kantor. Gimana mau begitu, lewat dapur aja saya ogah. Alhamdulillah suami menerima dengan lapang dada dan sabar dengan kondisi ini. Sebetulnya saya kasihan dengan suami, dan berpikiran mecari tenaga bantuan part time untuk mengurus urusan domestik rumah.

Well, semoga saya dan bayi, dan suami selalu dilimpahi kesehatan. AMin.

Cheers 😀

Welcoming : Baby Bump

Haloooo…

Setelah sekian lama tidak pernah menyentuh blog ini, terutama sejak kesibukan di kantor yang mulai meningkat. Hampir 3 bulan ini memang di kantor kegiatannya sangat – sangat padat. Mulai dari masuk tim ini itu di kantor, persiapan visitasi akreditasi yang bikin inget jaman – jaman kerja kantoran yang sering banget pulang malam, persiapan semester baru, daann sempat ke luar kota selama beberapa hari mengikuti seminar bersama dengan dosen pembimbing saya dulu. Alhamdulillah ya, dengan kesibukan yang segitu banyaknya saya jadi makin semangat buat ngapa-ngapain.

Jadi ceritanya di minggu sebelum keberangkatan ke Jogja buat seminar, saya kayak kejar tayang banget semuanya, di weekend full acara kantor, bahkan buat jalan – jalan sama suami aja gak sempat. Jadinya di minggu – minggu itu saya beneran capeeekk banget, Alhamdulillah pas di Jogja kemarin sempat me-time ya dengan bepergian sendiri. Pulang dari Jogja  Alhamdulillah bisa lebih relax, etapi kok si bulan belum dateng ya..padahal kalau dilihat dari jadwal sih harusnya itu pas pulang dari Jogja waktunya dapet. Ditunggu sampe seminggu belum dapet juga, akhirnya nekat beli testpack, sambil mempersiapkan diri kalau hasilnya belum sesuai harapan seperti yang sebelumnya.

Singkat cerita, Jumat pagi bangun tidur saya langsung bangunin suami minta ditemenin testpack. Habis pipis nunggu hasilnya keluar sambil deg-degan gitu kita berdua, pas keluar setrip 2, Ya Allaaaahh rasanya kayak gak percaya…langsung peluk suami bilang kalau gak percaya….Alhamdulillah ya Rabb..

Dan hari ini berdasarkan perhitungan hari pertama hari terakhir menstruasi, Insya Allah dedek udah 6 minggu umurnya. Rencana besok saya dan suami ke dokter kandungan rekomendasi dari teman. Semoga besok hasil kunjungan ke dokter menunjukkan hal – hal yang positif. Amin.

Anyway..udah mulai kelihatan buncit dikit daaan semingguan ini udah mual muntah hampir tiada henti, lemes dan anti nasi dan masak. Nah looooo agak repot sih memang tapi yaaahh dinikmati. Hehehe.

🙂