Cerita Ibu : Invest in a good pump

Helloooooooooooooooooo

Sepertinya blog ini mulai jamuran ngga pernah disambangi sama sekali yaaa…

Baby R sudah memasuki 3 bulan sekarang, Alhamdulillah makin aktif. Banyak sekali yang ingin diceritakan, tetapi bingung mulai dari yang mana. Banyak sekali ups and downs, suka cita, tangis tawa sampai bingung mau mulai dari mana :D.

Berawal dari obrolan di grup whatsapp ibu-ibu angkatan kuliah saya, awalnya ada yang nanya, pompa asi apa sih yang bagus? Kebetulan yang bertanya adalah teman saya yang sedang hamil, dan berencana membeli pompa asi untuk persiapan.

Pada saat obrolan itu berlangsung saya sendiri sedang menggunakan pompa asi Malish seri Celia, dan kebetulan masih sewa, belum punya sendiri. Pada saat itu saya sudah pengalaman menggunakan 3 macam pompa asi. Here we go review dari saya.

Pigeon Manual Breast Pump.

Ini adalah breast pump pertama yang saya punya. Beli sekitar H-7 sebelum lahiran. Karena kepikiran pas di RS harus banget sudah ada BP, entah buat nampung rembesan atau mancing keluarnya ASI. Dan betul sekali, kepake di RS sampai pulang. Karena setelah di rumah kalau baby R tidur saya manfaatkan waktu untuk pumping meskipun hasilnya masih basahin pantat botol doang. Dan rekor hasil perahan saya di awal – awal adalah pakai BP ini. Kelebihan dari BP ini sendiri adalah tuasnya ergonomis, gak terlalu pegel buat pumping dan kuat banget tarikannya bersinergi dengan tangan saya. Kekurangannya menurut saya printilan pompanya banyaaaak banget, pegel cuci steril nya 😦 dan lama kelamaan pegel juga lo pumping pakai manual.

Malish Mango

Ini adalah BP kedua yang saya coba. Boleh minjam punya tetangga. Ceritanya tetangga saya yang juga sahabat saya ini menyarankan saya buat ganti BP elektrik, karena nantinya saya kerja. DIa berbaik hati meminjamkan BP Malish Mango nya untuk saya coba selama 3 hari. Voilaaaa enak banget… narik, ga sakit, dan tiba2 asi nya uda netes aja ke botol. Kepikiran nantinya kalau mau beli BP elektrik mau mempertimbangkan merk Malish aja. Karena konon BP elektrik ini cocok – cocokan ya. Kelebihannya buat saya jelas karena ga sakit nariknya dan nyedotnya endeess sampai kosongin PD, daaaan yang terpenting ga capek seperti pakai manual. Kekurangannya adalah masih single pumpΒ  yang berati doubled your pumping time πŸ™‚ dan non – rechargeable.

Medela Swing

Pompa ini lah yang membuat saya sadar bahwa elektrik BP itu cocok – cocokan. Karena saya memutuskan , enough pakai manual BP, suami saya menyewakan si Medela Swing ini ke Mba Dian Pompa Asi Malang. Dan saya merasa tidak cocok pakai pompa ini, while banyaaak sekali moms d luaran sana cocok pakai pompa ini. Kenapaaaaa oh kenapaaaa? Kalau di saya pompa ini kurang narik, netesnya lama dari di hisap sampai asi turun ke botol. Bikin down duluan, kok asi ku ga keluaaarrrrr??? 😦 😦 Gara – gara ini saya jadi males pumping, yang berakibat produksi turun. Kelebihan pompa ini kalau di saya adalah sama sekali nggaaa sakiitt, dan corongnya ukuran L bener – bener pas. Pas banget kayak jodoh. Sayangnya saya tidak ingin menjadikan BP ini pilihan BP yang akan saya beli. Mahal juga kaliii. Dan single pump non rechargeable.

Malish Celia

Setelah mengeluh tentang ketidak cocokan saya dengan Medela Swing ke Mba Dian, dia menawarkan Malish Celia yang sedang ready to rent. Langsung saya iyain aja tukar Medela Swing sama Malish Celia ini. Seperti pengalaman saya pakai Malish sebelumnya enak banget nariknya, dan mulailah saya rajin pumping lagi. Enaknya BP ini adalah dari segi tarikannya seperti Malish pada umumnya, dan rechargeble. Sampai awal masuk kerja pun saya masih pakai Malish Celia ini. Kekurangannya kalau untuk saya adalah waktu itu dia masih single pump jadi lumayan time consuming kalau harus pumping di kantor. Tapi melihat dana yang ada, saya memutuskan untuk beli Malish Celia yang double pump, meskipun kalau double pump akan kurang narik karena motornya cuma 1.

Malish Ilaria

Setelah didesak oleh suami untuk segera beli BP karena masa sewa Malish Celia akan habis, akhirnya saya setuju dibelikan Malish Celia, dan belinya online saja karena lebih murah.Waktu cek ke OLS di shopee, kok harganya Malish Celia double pump sama Malish Ilaria ga beda jauh ya? Konon Malish Ilaria ini lagi didiskon di ols tersebut. Sempat galau, Malish Ilaria ini adalah seri hospital grade nya Malish, dimana pasti lebih tangguh. Double pump nya sudah menggunakan 2 motor, jadi bisa disesuaikan kekuatan hisapan untuk masing – masing pompa. Cuma tidak rechargeable, nah looooo. Setelah semedi semalaman, saya dan suami memutuskan membeli Malish Ilaria karena konon dia juga best pump nya Malish. Harga emang ga boong, sampe sekarang pompa ini masih saya pakai, enak bangeeettt…no time consuming anymore. Salah satu cara mensiasati non rechargeable nya adalah suami membekali saya dengan power bank yang harus selalu ready di dekat saya. Alhamdulillah. Untuk BP sekelas ILaria, dengan merk lain, Malish dikenal sebagai pompa dengan harga yang lumayan terjangkau, sebanding dengan fungsinya.

Naahh..memang bener tag line invest in a good pump, karena berefek pada semangat memompa, hasil perahan dan waktu. Saya bukan orang dengan asi yang banjir banjiirr dan harus jungkir balik untuk mengASIhi. Namun, dengan melakukan investasi untuk pompa yang harganya lumayan pricey tapi skillfull amat sangat membantu untuk ibu bekerja seperti saya.

Sekan rewiew dari saya di Cerita Ibu. Sampai ketemu di Cerita Ibu lainnyaaaa πŸ™‚

 

Iklan

Social Media Nowadays

Hello πŸ™‚

Saya sedang berpikiran untuk ‘membersihkan’ medsos saya. Ya facebook, ya twitter dll. Kenapa dibersihkan?

Karena, saya merasa media sosial isinya sudah terlalu macam – macam. Sudah jauh di luar nalar saya. Saling menjelekkan satu sama lain. Menyebar berita yang kita semua tidak jelas tahu baik atau benarnya.

Media sosial sudah tidak berfungsi sebagaimana dulu. Dulu saya menganggap media sosial itu fungsinya ya buat menyambung silaturahmi, menemukan teman lama yang sudah lama gak ada kabar, semacam itulah. Sekarang media sosial lebih cenderung sebagai tempat untuk menyebar hal – hal yang justru sebenernya ada tendensi untuk memupuk nilai – nilai kebencian dan asumsi tak berdasar. Lalu kemana fitrah kita sebagai manusia sebagai makhluk sosial yang penuh dengan kasih sayang?

Atau jangan – jangan media sosial itu bukan bagian dari fitrah manusia? Bahwasanya manusia harus berinteraksi dan bersilaturahmi secara nyata, di dunia nyata dan real time? Saya belum tahu jawabannya.

Saya sedang dalam proses mengurangi porsi sosial media, mengalihkan perhatian dan memaksa diri saya kembali ke dunia nyata. Contohnya?

  1. Saya mulai membatasi penggunaan handphone hanya untuk whatsapp, sosial media dibuka sesekali saja dalam sehari.
  2. Mulai browsing barang yang akan saya jual di olshop saya, yang atas dukungan suami Insya Allah akan segera kami launching.
  3. Back to basic. Membaca buku.Yaaa… buku dalam bentuk fisik, bukan e-book atau artikel yang didapatkan dari sosmed. Hahahhaa.

Kembali ke dunia nyata menyenangkan so far. Lebih banyak waktu buat istirahat dan buat ngurus suami, setelah drama kerewelan kehamilan di trimester pertama kemarin.Semoga saya istiqomah untuk mengurangi dan bersih – bersih sosmed. πŸ™‚ πŸ™‚

Cerita Kehamilan : 13 Minggu

Hello everyone πŸ™‚

ALhamdulillah minggu ini kehamilan saya menginjak minggu ke 13, yaitu 3 bulan lebih sedikit lah. Rasanya? Kadang tidak percaya kalau ada makhluk kecil yang sedang tumbuh inside my tummy.

Kondisi saya sejak hamil ini bener – bener berubah sekali dari sebelum hamil. Sebelum hamil saya hobi banget ngurus rumah dan masak, sejak hamil ini, alergi banget sama yang namanya kerjaan rumah. Langsung mual. Bahkan lewat dapur pun saya udah ngerasa mual. Tidak beruntungnya saya, kamar mandi letaknya di sebelah dapur, jadi kalau mau ke kamar mandi harus ngelewatin dapur. Jadinya kalau mau ke kamar mandi itu saya selalu tutup hidung. Bahkan pernah, ambil piring di dapur aja pas mau makan, saya langsung jackpot. Mandi pun juga begitu, gak mau berlama – lama di kamar mandi. Mandi bebek itu tiap hari, dan hanya 1 kali sehari. Kebayang kan, joroknya bagaimana.

Sebelum hamil saya juga hobi merawat diri dan mengoleksi skin care berbagai macam, sejak hamil? Boro – boro make, lihat aja saya udah mual banget. Alergi. Akhirnya meja tempat lenongan yang awalnya ada di kamar depan, dipindah ke kamar belakang dan tanpa pernah saya sentuh lagi.

Bagaimana dengan makan? Sebelum hamil saya adalah penggemar sayur – sayuran, sejak hamil, saya anti sayuran. Sangat menyedihkan. Pernah suami beli capcay untuk makan malam, saya menolak bahkan berurai air mata karena baunya begitu menyengat membuat saya mual. Alhamdulillahnya, saya masih suka dengan buah dan jus.

Alhamdulillah lagi waktu kontrol ke dokter minggu kemari, si adek bayi di perut sehat, detak jantungnya teratur dan normal. Sayangnya berat badan saya turun 4kg sejak 3 minggu yang lalu. Kondisi ini sangat saya syukuri, karena saya ada riwayat flek dan harus bedrest 5 hari di minggu ke 7-8. Sejak itulah saya bener – bener menghargai apa yang namanya istirahat.

Dari tau hamil sampe sebelum menginjak bulan ketiga saya jackpot parah, sehari bisa 5 kali dan hampir tidak bisa makan nasi. Yang sering hanya makan roti, biskuit buah atau jus. Alhamdulillah, seiring berjalannnya waktu, kerewelan ini jauh berkurang, sudah bisa makan macam – macam meskipun nggak banya. Dan alhamdulillah sudah punya rasa lapar.

Pada kondisi seperti ini, peran suami sangat – sangat besar. Dulu suami adalah orang yang sangat jarang melayani dan membantu pekerjaan rumah. Sekarang hampir setiap pekerjaan rumah dia yang mengerjakan disela-sela jam kantor dan pekerjaan tambahannya. Bahkan untuk makan pun, suami yang mengambilkan dan mencucikan piring saya. Jangan ditanya, padahal saya sudah tidak pernah memasakkannya lagi, tidak pernah menyambutnya dengan minuman hangat sepulang kantor. Gimana mau begitu, lewat dapur aja saya ogah. Alhamdulillah suami menerima dengan lapang dada dan sabar dengan kondisi ini. Sebetulnya saya kasihan dengan suami, dan berpikiran mecari tenaga bantuan part time untuk mengurus urusan domestik rumah.

Well, semoga saya dan bayi, dan suami selalu dilimpahi kesehatan. AMin.

Cheers πŸ˜€

Welcoming : Baby Bump

Haloooo…

Setelah sekian lama tidak pernah menyentuh blog ini, terutama sejak kesibukan di kantor yang mulai meningkat. Hampir 3 bulan ini memang di kantor kegiatannya sangat – sangat padat. Mulai dari masuk tim ini itu di kantor, persiapan visitasi akreditasi yang bikin inget jaman – jaman kerja kantoran yang sering banget pulang malam, persiapan semester baru, daann sempat ke luar kota selama beberapa hari mengikuti seminar bersama dengan dosen pembimbing saya dulu. Alhamdulillah ya, dengan kesibukan yang segitu banyaknya saya jadi makin semangat buat ngapa-ngapain.

Jadi ceritanya di minggu sebelum keberangkatan ke Jogja buat seminar, saya kayak kejar tayang banget semuanya, di weekend full acara kantor, bahkan buat jalan – jalan sama suami aja gak sempat. Jadinya di minggu – minggu itu saya beneran capeeekk banget, Alhamdulillah pas di Jogja kemarin sempat me-time ya dengan bepergian sendiri. Pulang dari JogjaΒ  Alhamdulillah bisa lebih relax, etapi kok si bulan belum dateng ya..padahal kalau dilihat dari jadwal sih harusnya itu pas pulang dari Jogja waktunya dapet. Ditunggu sampe seminggu belum dapet juga, akhirnya nekat beli testpack, sambil mempersiapkan diri kalau hasilnya belum sesuai harapan seperti yang sebelumnya.

Singkat cerita, Jumat pagi bangun tidur saya langsung bangunin suami minta ditemenin testpack. Habis pipis nunggu hasilnya keluar sambil deg-degan gitu kita berdua, pas keluar setrip 2, Ya Allaaaahh rasanya kayak gak percaya…langsung peluk suami bilang kalau gak percaya….Alhamdulillah ya Rabb..

Dan hari ini berdasarkan perhitungan hari pertama hari terakhir menstruasi, Insya Allah dedek udah 6 minggu umurnya. Rencana besok saya dan suami ke dokter kandungan rekomendasi dari teman. Semoga besok hasil kunjungan ke dokter menunjukkan hal – hal yang positif. Amin.

Anyway..udah mulai kelihatan buncit dikit daaan semingguan ini udah mual muntah hampir tiada henti, lemes dan anti nasi dan masak. Nah looooo agak repot sih memang tapi yaaahh dinikmati. Hehehe.

πŸ™‚

Wardah Hydrating Aloe Vera Gel : A Review

Setelah mengumpulkan niat sebanyak – banyaknya, bahkan kadang timbul tenggelam, akhirnyaaaaaa saya memberanikan diri menulis postingan yang bertema Skin Care Review. 

Postingan ini dibuat dalam rangka saya lagi addicted banget sama yang namanya skin care. Hal ini tidak bukan dikarenakan oleh 2 hal, pertama, sejak pindah ke Malang saya nemuin toko yang jual berbagai macam skin care dengan harga yang muraaaah dan supeeerrr lengkap. Kedua, temen sekantor saya hobi banget pake skin care, dan dia adalah tipe yang telaten banget pake skin care. Naaah atas 2 hal tadi, saya jadi mulai rajin pake skin care dan nyobain merek yang lagi hype. 

Di postingan review pertama ini saya mencoba me-review skin care terbaru yang saya beli. Taraaaaa.. Wardah Hydrating Aloe Vera gel. 

Gambar di atas adalah penampakan si Wardah HAVG. Fungsinya sebenernya macem-macem. Ada yang bilang bisa untuk kulit yang terbakar matahari, melembabkan dan lain lain. 

Untuk mencari produk ini di Malang terbilang agak susah, sempat muter-muter ke beberapa toko, dan akhinya nemu di toko dekat rumah, informasi dari Jeng Gita. 

Bagi saya pribadi, produk ini sangat-sangat berguna. Saya menggunakan produk ini karena kulit kaki dan tangan saya cenderung kering ya, sedangkan kalau pakai hand cream atau lotion kerasa berat. Produk ini biasanya saya gunakan setelah mandi, untuk mengembalikan kelembaban kulit. Setelah beberapa hari pakai, saya jatuh cinta banget sama produk ini. Lembut, tidak berat, melembabkan dan wangi. Wanginya tidak terlalu kuat, kata suami saya malah wanginya cenderung ringan tapi menyegarkan. Jadi buat yang alergi sama fragrance  produk ini aman digunakan.


Penampakan ingredients dan kegunaan ada di balik kemasannya. Alhamdulillah produk ini tidak mengandung paraben, which is kandungan yang sedang saya hindari dalam skin care. Untuk harga, cukup terjangkau denga 36,000 saja untuk kemasan 100ml. Saya belum trial sih 100ml ini akan habis berapa lama. Yang jelas, setelah produk ini habis, saya yakin bakal repurchase

Sekian review dari saya untuk produk yang sudah sukses bikin saya jatuh cinta ini. Sampai jumpa di review selanjutnya.

Xoxo,

Luli mayer πŸ˜€

Being a Housewife

Hello!

Sudah lama banget ga posting πŸ˜€

Sudah sekitar 1,5 bulan saya officially jadi Mrs.A. Rasanya nano – nano, senengnya sering, kadang capek, kadang kesel. Apalagi memasuki bulan Ramadhan ini, Alhamdulillah udah ada temen sahur dan berbuka, udah ada yang dimasakin buat sahur dan buka. Udah ngalamin bingungnya hari ini masak apa, secara kemampuan memasak terbatas. Mana si mas suami lumayan pedes kalo mengkritik masakan saya, yang kurang ini, kurang itu dll. Gapapa sih, jadinya saya bisa improve kurangnya dimana. Kata dia sih, day by day masakan saya makin enak. Eaaaaaa :D.

Alhamdulillah lagi saya kerja di tempat yang amat bersahabat dengan profesi fulltime saya jadi ibu rumah tangga. Saya berangkat kerja setelah suami berangkat kerja, dan sudah di rumah ketika suami pulang kerja. Kalau ada urusan apa – apa, misal disuruh suami ngurus sesuatu di bank dll, saya bisa ijin skip sebentar dari kantor. Malah kadang ibu – ibu di kantor pada janjian skip bareng, misalnya nge-mall atau sekedar belanja bahan makanan d supermarket deket kantor. Saya juga masih bisa full time ngantor, sesuai dengan jam kerja yang ditetapkan. Mungkin karena faktor belum ada anak kali ya.

Kesan saya jadi ibu rumah tangga newbie ini adalah, jadi IRT itu capek jendral :D. Makanya, makin kesini saya salut sama para ibu di luaran sana yang kerja fulltime dan masih bisa ngurus rumah dan keluarganya. Mereka masih bisa loh masak, nyuci, nyetrika, ngepel, dan segambreng pekerjaan rumah tangga lainnya dan tetep jadi wanita karir. Pasti susah banget ada di posisi itu. Makanya yaa, stop aja lah ya judging mana yang lebih baik antara ibu bekerja dan fulltime housewife.

Saya aja yang masih baruuuu banget jadi IRT kadang aja ngerasa capek. Dari bangun pagi subuh aja, abis sholat langsung cuss di dapur. Bikin sarapan sama bekal buat suami dan buat saya (kadang – kadang). Tapi kalau bekal suami sih saya sebisa mungkin harus bikinin. Karena gimana – gimana insya allah masakan rumah itu lebih sehat. Kesehatan suami sekarang ini beneran jadi concern saya, karena energi yang dia butuhkan lebih banyak, kantor dia jauh booo dari rumah. Makanya, sebisa mungkin jam 6 sarapan harus siap di meja, dan 15 menit kemudian suami saya udah siap cuss ke kantor. Habis itu baru deh saya bersih – bersih dapur dan meja makan, baru cuss ke kantor. Baru bisa nyuci, nyetrika dan bersih – bersih itu pulang kantor. Habis itu baru masak buat nyiapin dinner suami. Kesannya saya hobi banget masak ya? Enggak kok, percayalah lebih praktis kalau kita beli makan di luar. Tapi, suami saya tipe yang lebih suka masakan rumahan sesederhana apapun itu. Kalau saya lebih ke higienis dan ingredients nya kita tahu pasti apa yang kita masukin. Lebih aman insya allah. Ada kalanya saya ngerasa capek banget, sampe ga sanggup masak, misalnya nih saya lagi ada training sampe sore banget atau emang lagi ga enak badan, suami gak masalah kok kalau makan di luar. Enaknya masak sendiri sebetulnya juga karena kita bisa kontrol budget ya, lebih hemat jadinya.

Kalau weekend, jangan dibayangin bisa santai – santai kelesotan di kasur. HAHAHA. Bisa sih, tapi ada segambreng aktivitas yang saya lakukan juga. Misalnya, saya ke pasar kan seminggu sekali, beli kebutuhan masak buat seminggu, khususnya sih per-lauk-pauk-an ya. Pulang dari pasar barulah saya olah, misalnya ayam dan daging diungkep supaya dalam seminggu ke depan kalau mau makan tinggal di goreng. Motong – motong sayuran, misahin dari yang busuk. Terbukti lebih awet kok. Beneran mempersingkat waktu memasak. Saya seringnya baru bisa bersih – bersih rumah total itu ya di weekend, misalnya ngepel atau bersihin kamar mandi. Untungnya, suami sering nawarin bantuan (kalau weekend sih). Tanpa segan lo, dia bantuin ngupas bawang buat d masukin tupperware, sekali lagi biar kalau masak cepet. Alhamdulillah.

Sebagai married couple, saya dan suami sadar jangan sampe kita terjebak rutinitas rumah tangga yang ga ada habisnya. Sesekali, biasanya sih seminggu sekali kita kencan ala – ala gitu. Sekedar jalan ga jelas, makan di luar atau nyobain kafe baru. Tapi, sejak tinggal bareng kita malah belum pernah sama sekali nonton bioskop kayak jaman pacaran dulu yang hampir tiap kencan kita nonton. HAHAHA. Eh pernah ding, waktu kita lagi liburan di Jogja habis acara resepsi nikahan kita. HAHAHA. Semoga segera ada kesempatan ya.

Nah…demikan lah uneg-uneg saya selama menjadi IRT anyaran.

Selamat puasa dan menyambut Idul Fitri. πŸ˜€

 

Counting Down

Bismillah…Insya AllahΒ  seminggu lagi saya akan jadi istri orang. Rasanya campur – campur..apalagi semua persiapan serba last minutes beresnya. Fiuhh….Si mas pacar sendiri kalau saya tanya bagaimana rasanya dia akan menjawab dengan yang saya jawab. Kalau kata dia sih lebih ke deg-degan campur seneng dan excited.

Alhamdulillah juga orang kantor saya semuanya sangat pengertian. Mulai dari disuruh cuti buat persiapan sampe berbagi tips and trick dalam berumah tangga nanti. Ya memang sih kadang tips nya ngocol dan jorok abis. Tapi selaku senior mereka sangat pengertian banget pokoknya. Tapi saya pilih ambil cuti H-1,5 karena saya tidak ingin membebani orang lain khususnya mahasiswa dan dosen yang gantiin kerjaan saya nanti.

Makin kesini makin sadar sih saya kalau perjalanan hidup kita dan orang lain itu ga akan pernah sama. Ada orang yang oleh Allah dikasih jodoh dulu baru dikasih kemapanan ada yang dikasih mapan dulu baru dikasih jodoh. Ada yang ketika menikah sudah siap fasilitas ini itu nya, ada pasangan yang nyiapin bareng – bareng, ada juga pasangan yang mulai dari ngga punya apa – apa dan melengkapinya satu persatu. There’s no fixed pattern dalam kehidupan ini. Setiap orang punya petualangannya sendiri – sendiri. Dan Insya Allah petualangan saya dan calon suami akan dimulai setelah ini.